0

Jakarta - Mencampur bahan bakar subsidi dengan non-subsidi bukan lagi menjadi suatu hal yang tabu di Indonesia. Hal itu sudah sering dan bayak dilakukan oleh para pengguna sepeda motor atau mobil. Alasannya adalah tetap bisa menghasilkan kualitas bahan bakar yang baik tapi dengan harga yang 'miring'.

Dalam mencampur bahan bakar, banyak cara yang dilakukan oleh para pengguna kendaraan. Tapi, cara tersebut belum tentu benar atau justru bisa merusak mesin karena salah mencampurnya. Lalu bagaimana cara mencampur yang benar?

Menurut GM Technical Service PT Toyota-Astra Motor (TAM) Dadi Hendriadi, sebenarnya banyak cara untuk mencampur bahan bakar subsidi dengan non-subsidi. Tapi cara yang paling mudah dilakukan adalah mencampur bahan bakar dengan komposisi 50:50.

"Misalnya bahan bakar subsidinya 1 liter, lalu yang non-subsidinya juga 1 liter. Hitungannya dari Research Octane Number (RON), misalnya subsidi RON 88 dan non-subsidi 95, hasilnya dibagi 2 dan akan menghasilkan RON di atas 90," katanya saat dihubungi detikOto.

Metode seperti itu lanjut Dadi paling mudah dan paling sering digunakan oleh para pengguna kendaraan yang mencampur BBM. Metode itu dihitung berdasarkan cara linear.

"Tapi tidak juga sepenuhnya benar. Semuanya dilihat dari oktan numbernya. Tapi secara teoritis bisa saja menggunakan metode itu dan tidak akan ada masalah, terkecuali bahan bakar yang dicampurnya sudah dicampur cairan zat-zat kimia atau aditif," katanya lagi.

Post a Comment

 
Top